AKU TERTAWA. Mereka berkata, kenapa tidak malu?!
AKU MENANGIS. Mereka berkata, kenapa tidak senyum?!
AKU TERSENYUM. Mereka berkata, ini senyum pamer!
AKU CEMBERUT. Mereka berkata, tampaklah yang disembunyikan!
AKU DIAM. Mereka berkata, tidak bisa bicara!
AKU BICARA. Mereka berkata, banyak omong!
AKU LEMBUT. Mereka berkata, pengecut dan licik!
AKU KERAS. Mereka berkata, ini emosi!
AKU MENOLAK. Mereka berkata, tidak kompak!
AKU SETUJU. Mereka berkata, ikut-ikutan saja!
TERUS MANA YANG BENAR…???!!!
Aku yakin, ridho semua manusia mustahil kuraih.
Pasti ada yang memujiku dan pasti ada yang mencelaku.
(Tulisan ini terinspirasikan dari sebuah syair yang ditulis oleh DR. Muhammad Bin Dhafir Asy-Syahri, yang berjudul Ridha An-Naas)
NB.
Teringat pula kisah 3 makhluq Allah:
seorang ayah, seorang anak, dan seekor keledai yang melakukan perjalanan
bersama. Ketika mereka semua berjalan tanpa menunggangi keledainya,
orang yang melihat mereka mencela dengan mengatakan, "buat apa membawa
keledai jika tidak ditunggangi". Akhirnya sang ayah menaiki keledai dan
sang anak berjalan kaki menuntun keledai, orang yang melihat kembali
mencela, "Sungguh ayah yang tak punya belas kasihan, membiarka anaknya
berjalan kaki sementara dia nyaman menunggang keledai". Sang ayah pun
turun dan menyuruh anaknya menaiki keledai sementara dia berjalan
menuntun keledai, orang yang melihat dengan tajam mencela tingkah laku
mereka, "Sungguh anak yang tidak tahu diri, masih muda dengan enaknya
duduk di atas keledai sedangkan ayahnya yang sudah tua berjalan kaki".
Sang anak pun turun kemudian mereka memutuskan untuk sama-sama menaiki
keledai, orang yang bertemu dengan mereka pun kembali mencela sambil
mengatakan, sungguh manusia-manusia yang tidak mempunyai belas kasihan,
keledai yang kecil dan kurus dipaksa berjalan dengan menampung mereka
berdua di punggungnya. Akhirnya karena tidak ada cara lain mereka
mengikatkan tongkat pada kaki-kaki keledainya lalu mereka gotong,
orang-orang yang melihat mereka pun serentak mentertawakan mereka sambil
mengatakan bahwa mereka orang-orang yang dungu, keledai yang seharusnya
mereka tunggangi untuk memudahkan perjalanan malah memberatkan mereka
dengan menggotongnya.
Subhanallah, sungguh, jika kita terus mengikuti apa kata orang maka takkan ada habisnya.
Wallahulmusta'an.
Terus belajar dan berbenah diri! =)





0 komentar:
Posting Komentar